Minggu, 21 Februari 2010

TULISAN UMUM BAHASA INDONESIA 2 (Pendidikan Karakter Mendesak)

Pendidikan Karakter Mendesak
Maraknya kasus penjiplakan karya ilmiah dan sejumlah kecurangan lainnya menunjukan, pendidikan karakter, budaya, dan moral semakin mendesak diterapkan di dunia pendidikan. Meski demikian, pendidikan karakter tidak harus menjadi mata pelajaran tersendiri.
Demikian dikemukakan mentri Pendidikan Nasional Muhamad Nuh dalam jumpa pers, jumat (19/2), di Jakarta, menanggapi terungkapnya kasus penjiplakan oleh guru besar di Bandung dan maraknya jasa pembuatan karya ilmiah di berbagai kota. Menurut mentri, dibandingkan dengan memasukkan pendidikan karakter, budaya, dan moral dalam mata pelajaran atau mata kuliah tersendiri, lebih efektif membangun tradisi akademik di perguruan tinggi.
"Jika perguruan tinggi memiliki university culture sangat kuat, maka akan tercermin pada nilai akademik yang sangat tinggi, termasuk kejujuran, kecermatan, dan ke hati-hatian dalam membuat karya ilmiah ," ujarnya.
Menurut Nuh akar penyebab terjadinya penjiplakan ada tiga faktor, yakni rendahnya integritas pribadi, ambisi mendapatkan tunjangan finansial, serta kurang ketatnya sistem di perguruan tinggi."Cara mengatasinya juga harus komprehensif, tidak bisa sepotong-sepotong," ujarnya.
Puncak tragedi pendidikan
Secara terpisah, Frietz R Tambunan , dosen Etika dan Metoda Penelitian Universitas Katolik St Thomas, Medan saat dihubungi Kompas, jumat (19/2), mengatakan, banyaknya kecurangan, termasuk penjiplakan, di perguruan tinggi merupakan puncak tragedi pendidikan.
"Hilangnya kejujuran dalam pendidikan sama dengan hilangnya roh pendidikan itu sendiri. Lalu, nilai-nilai apa yang akan ditawarkan pendidikan kita?" komentar Frietz R Tambunan.
Dikemukakan Frietz, aneka ketidakjujuran sudah berlangsung lama. Konversi nilai ujian akhir tahun 2004, misalnya, merupakan bukti kejahatan intelektual institusional yang dilakukan secara transparan oleh Kementrian Pendidikan Nasional saat itu. Kini, kita manuai hasilnya.
"Menurut saya, tragedi sudah terjadi pada level konseptor. Jika mengamati aneka keputusan pendidikan, terlihat batapa para pejabat pendidikan tidak mengetahui akan berbuat apa. Banyak konsep dilahirkan, tetapi tidak menukik inti pendidikan, yaitu memanusiakan manusia. Murid dianggap objek, menjadi bagian proyek, bukan lagi subjek yang harus dihargai. Pendidikan pun dilihat secara politis," ungkap dia.
SUMBER : Kompas, sabtu 20 februari 2010.

0 komentar:

Poskan Komentar