Senin, 22 Februari 2010

TULISAN UMUM BAHASA INDONESIA 2 (Nyamuk Sang Pembawa Maut)

Nyamuk Sang Pembawa Maut
SAAT nyamuk (Culicidae) menggigit,
memang cuma nyelekit atau panas sedikit di kulit tapi,
setelah isapan itu, bisa-bisa membuat nyawa
melayang, terutama jika yang menggigit nyamuk
Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Kedua nyamuk tersebut sebagai vektor atau perantara penularan penyakit demam berdarah (DB) dan DB dengue (DBD). Data dunia menunjukan, 50 juta orang terinfeksi virus dengue yang ditularkan nyamuk Aedes. Di antara orang yang terkena virus tersebut 400.000 kasus DB dengue dan 25.000 jika yidak bisa diselamatkan.
Kajian terbaru, nyamuk Aedes aegypti ternyata tidak cuma hidup di air bersih, seperti yang selama ini dipahami. Berdasarkan kajian eksperimental Institut Pertanian Bogor (IPB), nyamuk tersebut bisa bertelur dan berkembang biak di air yang terpolusi deterjen, kaporit, dan air selokan. Nyamuk itu beradaptasi dengan lingkungan yang kualitasnya semakin buruk dengan daya tahan hidup yang semakin tinggi.
"Menurut teori, sebelumnya nyamuk aedes aegypti hanya suka berada di air bersih, tapi sekarang mereka juga bisa tinggal di air yang sudah terpolusi," kata pakar serangga (entomologi) dari IPB, Upik Kusumawati, pada acara peluncuran Gerakan Nasional Demam Berdarah di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, Aedes aegypty bisa hidup di air kotor, seperti air yang mengandung kaporit, air comberan, air cucian yang mengandung deterjen, dan air yang mengandung kotoran binatang.
Jenis Nyamuk
Ia menjelaskan, penyebar penyakit yang disebabkan nyamuk bukan hanya 2 jenis. Tetapi di seabtero dunia ini ada 3.450 jenis nyamuk 475 jenis nyamuk di antaranya ada di Indonesia. Nyamuk yang menjadi vektor penyakit di Indonesia antara lain Anopheles (80 jenis), Culex (82 jenis), Aedes(125 jenis), dan Mansonia (8 jenis).
Serangga tersebut menyebarkan bibit penyakit, antara lain malaria, kaki gajah, radang otak, dan chikungunya. Penyakitmalaria yang disebabkan nyamuk Anopheles itu banyak terjadi di luar pulau Jawa, di Bukit Menoreh, Jawa Tengah, Pelabuhanratu dan Pengandara, Jawa Barat. Kaki gajah atau Filariasis disebabkan gigitan nyamuk Culex yang hidup di selokan-selokan.
SUMBER : Warta Kota Senin, 22 Februari 2010

0 komentar:

Poskan Komentar